PT BESTPROFIT FUTURES
PT BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN – Harga minyak kembali menguat pada hari Rabu (28/1) dan menyentuh level tertinggi dalam empat bulan, dipicu meningkatnya premi risiko setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Iran. Trump mendesak Teheran segera membuka jalur negosiasi untuk kesepakatan nuklir, sambil mengisyaratkan potensi serangan lanjutan. BESTPROFIT
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menulis harapan agar Iran segera “duduk di meja perundingan” untuk mencapai kesepakatan yang “adil dan setara”. Ia juga menegaskan bahwa serangan berikutnya akan “jauh lebih buruk” dibandingkan serangan yang terjadi tahun lalu.
Ancaman terhadap potensi pasokan dari Iran ikut menambah risk premium pada harga minyak. Dampaknya, kontrak berjangka memulai tahun dengan solid—naik lebih dari 10% bulan ini—meski di sisi lain masih ada narasi potensi kelebihan pasokan. Di pasar derivatif, kondisi ini juga membuat biaya opsi yang bertaruh harga naik (bullish) tetap relatif mahal dibanding opsi bearish. DEMO BESTPROFIT
Kontrak WTI ditutup di atas $63 per barel setelah unggahan Trump, menjadi level tertinggi sejak akhir September, dan meneruskan kenaikan 2,9% pada sesi sebelumnya.
Namun setelah sempat menyentuh puncak intraday, penguatan minyak sedikit mereda. Salah satu pemicunya adalah pernyataan misi Iran di PBB melalui platform X: Iran menyatakan siap berdialog berdasarkan saling menghormati dan kepentingan bersama, tetapi juga menegaskan akan membela diri serta merespons “seperti belum pernah terjadi sebelumnya” jika ada agresi dari AS.
Dari sisi mata uang, dolar AS kembali menguat setelah Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan kebijakan “dolar yang kuat” tetap berlaku di era Trump, sekaligus membantah isu intervensi valas—terutama terkait dugaan penjualan dolar terhadap yen. Penguatan dolar biasanya membuat komoditas berdenominasi dolar, termasuk minyak, jadi relatif kurang menarik bagi pembeli non-AS.
Trump juga menambahkan komentar lain terkait pengiriman armada kapal AS ke Timur Tengah, yang menurutnya lebih besar daripada yang pernah dikirim ke Venezuela (yang ia sebut mengalami pergantian kepemimpinan oleh pasukan AS pada awal tahun ini. NEWSMAKER
Sinyal-sinyal ini memicu respons regional. Menteri Luar Negeri Iran dan Qatar menekankan pentingnya jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan. Sementara itu, putra mahkota Arab Saudi menyatakan wilayahnya tidak akan digunakan untuk operasi melawan Teheran.
Standard Chartered menilai sentimen pasar minyak mulai bergeser lebih positif karena narasi kelebihan pasokan yang dominan pada paruh kedua 2025 mulai melemah. Mereka memperkirakan volatilitas meningkat, dengan perhatian pasar kembali terfokus pada keseimbangan risiko pasokan dan permintaan.
Indikasi pasar juga terlihat pada struktur harga: selisih dua kontrak terdekat pada kedua patokan (spread) melebar dalam bentuk backwardation yang cenderung bullish, mengisyaratkan pasokan yang lebih ketat. Untuk Brent, indikator ini sempat menembus lebih dari $1 pada Rabu.
Di sisi data fisik, laporan pemerintah menunjukkan stok minyak mentah AS turun 2,3 juta barel pekan lalu—lebih besar dari perkiraan. Namun data ini diimbangi oleh kenaikan stok produk olahan: bensin naik ke level tertinggi sejak 2020. Pada penutupan terbaru: WTI Maret naik 1,3% menjadi $63,21 per barel di New York, sementara Brent Maret naik 1,2% menjadi $68,40 per barel.
Sumber: Newsmaker.id

Komentar
Posting Komentar