PT BESTPROFIT FUTURES
PT BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN – Emas mengalami kejatuhan paling brutal dalam beberapa tahun terakhir pada Jumat (30/1), berbalik arah tajam setelah reli “parabolik” yang sempat mengangkat harga ke rekor tertinggi sepanjang masa. Harga emas anjlok lebih dari 10% hingga jebol di bawah $5.000 per ons—melampaui besarnya penurunan intraday yang pernah terlihat saat krisis finansial global 2008, dan menjadi salah satu penurunan harian terdalam sejak awal 1980-an. BESTPROFIT
Aksi jual ini terasa seperti “pembongkaran posisi” massal. Setelah harga naik terlalu cepat, volatilitas yang ekstrem memicu likuidasi posisi leverage dan profit taking serentak. Puncaknya, emas spot tercatat turun hingga sekitar $4.830,65 per ons pada tengah hari di New York—menunjukkan betapa kerasnya arus keluar ketika pasar mulai panik mengunci keuntungan.
Pemicu utamanya datang dari dolar AS yang menguat, setelah kabar—yang kemudian dikonfirmasi—bahwa pemerintahan Trump menyiapkan Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed berikutnya. Dolar yang lebih kuat biasanya jadi “musuh alami” emas, karena membuat emas lebih mahal bagi pembeli global. Sentimen juga berbalik karena sebagian investor sebelumnya memborong emas ketika Trump memberi sinyal tidak masalah dolar melemah—begitu dolar justru menguat, posisi “safe haven trade” langsung diguncang. DEMO BESTPROFIT
Menurut Christopher Wong (OCBC), pergerakan ini seperti membuktikan cerita klasik pasar: naik cepat, turunnya juga cepat. Ia menilai kabar Warsh hanya menjadi pemantik, sementara koreksi sebenarnya memang sudah “ditunggu” pasar untuk membatalkan reli yang sudah terlalu parabolik. Dengan kata lain, trigger-nya ada, tapi “bahan bakarnya” sudah menumpuk dari euforia sebelumnya.
Di sisi mekanisme pasar, tekanan juga diperkirakan diperkuat oleh dinamika derivatif. Goldman Sachs menyoroti gelombang pembelian call option yang memecahkan rekor—yang secara mekanis mendorong penjual opsi melakukan hedging dengan membeli, sehingga memperkuat kenaikan. Saat harga berbalik, efeknya bisa seperti pegas: dealer menyesuaikan hedge secara agresif, mempercepat penurunan lewat fenomena yang sering disebut gamma squeeze. Di ETF emas besar seperti SPDR Gold Shares, posisi opsi yang jatuh tempo di level-level tertentu juga ikut memperbesar sensitivitas pergerakan. NEWSMAKER
Meski “dibanting” keras, emas masih naik sekitar 18% sepanjang Januari, mendekati kenaikan bulanan paling tajam sejak 1980—menandakan reli sebelumnya memang luar biasa besar. Namun indikator teknikal sudah lama memberi sinyal bahaya: RSI emas sempat menyentuh 90, level super overbought yang jarang terjadi dalam beberapa dekade. Dengan volatilitas yang ekstrem dan level psikologis $5.000 ditembus berkali-kali, pasar kini bersiap menghadapi fase lanjutan: gejolak bisa belum selesai.
Sumber: Newsmaker.id

Komentar
Posting Komentar